KONSEP PENDIDIKAN ISLAM YANG IDEAL

Posted: 23 Januari 2010 by Miftah in Artikel, Pendidikan
Tag:, ,

A. Pendahuluan

Islam sejak awal kemunculannya telah memperlihatkan pentingnya pendidikan bagi kehidupan manusia. Ayat pertama yang diterima Nabi Muhammad adalah Iqra’ yang mengandung pesan tentang perintah memberdayakan potensi akal yang dimiliki manusia, dan itu merupakan inti pendidikan dalam Islam. Namun, perlu diakui bahwa pendidikan Islam ketika itu belum mempunyai bentuk yang formal dan sistematis, karena peranan pendidikan pada awal perkembangan Islam  masih sebatas upaya-upaya penyebaran dakwah Islam berupa penanaman ketauhidan dan praktek-praktek ritual keagamaan.

Keadaan di atas berlangsung sejak Nabi Muhammad masih hidup hingga sampai pada suatu zaman dimana pemikiran umat Islam mulai bersentuhan dengan peradaban dan kebudayaan dari luar Islam (Arab).[1] Masuknya filsafat Yunani merupakan faktor yang sangat dominan bagi perkembangan pemikiran dalam Islam, termasuk dalam bidang pendidikan.

Pendidikan zaman dulu seharusnya menjadi cerminan untuk pendidikan masa yang akan datang. Yang baik dari zaman dulu dan sisi buruknya ditinggalkan. Hal ini dilakukan untuk mendapatkan solusi menghadapi globalisasi dan perkembangan zaman yang jauh berbeda dengan zaman dahulu. Filsafat pendidikan dan pemikiran pendidikan Islam, dalam hal ini harus turut memberi respon bagi semua perubahan dan perkembangan itu. Karena filsafat dan pemikiran Islam itu selalu merupakan akibat dari dua hal—yaitu ideologi Islam seperti digambarkan dalam al-Qur’an dan al-Hadis serta suasana baru yang muncul dalam dunia Islam (pendidikan) itu sendiri—sehingga perlu dibentuk konsep pendidikan Islam yang ideal yang dapat menyesuaikan terhadap perkembangan zaman dengan tanpa melupakan nilai-nilai keagamaan Islam dalam dunia pendidikan.

B. Konsep Ideal Pendidikan yang Islami

Sebelum membahas tentang pendidikan Islam, terlebih dahulu membahas apa itu pendidikan? Menurut M.J. Langeveld; “Pendidikan merupakan upaya manusia dewasa membimbing yang belum kepada kedewasaan.” Ahmad D.Marimba, merumuskan pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh sipendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani siterdidik menuju terbentuknya keperibadian yang utama.[2] Demikian dua pengertian pendidikan dari sekian banyak pengertian yang diketahui. Dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 2 Tahun 1989, “pendidikan dirumuskan sebagai usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan atau latihan bagi perannya di masa yang akang datang”. Sedangkan, “pendidikan dalam pengertian yang luas adalah meliputi perbuatan atau semua usaha generasi tua untuk mengalihkan (melimpahkan) pengetahuannya, pengalamannya, kecakapan serta keterampilannya kepada generasi muda, sebagai usaha untuk menyiapkan mereka agar dapat memenuhi fungsi hidupnya, baik jasmaniah maupun rohaniah.[3]

Pendidikan Islam ideal adalah  membentuk manusia yang bertaqwa kepada Allah SWT,  mampu menggunakan logikanya secara baik,  berinteraksi sosial dengan baik dan bertanggung jawab.  Dengan kata lain,  pendidikan Islam ideal adalah membina potensi spiritual,  emosional dan intelegensia secara optimal.  Ketiganya terintegrasi dalam satu lingkaran.

Aktifitas pendidikan Islam pada dasarnya merupakan upaya dalam mewujudkan spirit Islam, yaitu suatu upaya dalam merealisasikan semangat hidup yang dijiwai oleh nilai Islami. Selanjutnya spirit tersebut digunakan sebagai pedoman hidup. Spirit Islam ini berakar dalam teks-teks suci Al-Qur’an yang disampaikan Allah kepada Muhammad SAW. Sebagai Kitab Suci agama Islam, Al-Qur’an mengintroduksikan dirinya sebagai ‘pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus’ (QS. 17: 19), petunjuk-petunjuknya bertujuan memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi manusia baik secara pribadi maupun kelompok, dan karena itu ditemukan petunjuk-petunjuk bagi manusia dalam kedua bentuk tersebut. Rosul sebagai penerima Al-Qur’an bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk tersebut, menyucikan dan mengajarkannya kepada manusia (QS 67: 3). Menyucikan dapat diidentikan dengan mendidik (menjadikan seseorang bersih/suci), sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi jiwa anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam fisik dan metafisik.

Tujuan yang ingin dicapai dengan pembacaan, penyucian dan pengajaran tersebut adalah pengabdian kepada Allah SWT sejalan dengan tujuan penciptaan manusia sebagaimana yang ditegaskan oleh Al-Qur’an dalam Surat Al-Dzariat 56 ‘aku tidak menciptakan manusia dan Jin kecuali untuk menjadikan tujuan akhir  atau hasil segala aktifitasnya sebagai pengabdian kepada-Ku’. Aktifitas yang dimaksudkan disini tersimpul dalam kandungan ayat 30 Surat Al-Baqarah ‘sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’ dan Surat Hud 61 ‘ dan Dia (Allah) menciptakan kamu (manusia) dari bumi (tanah) dan menugaskan kamu memakmurkan’. Maksud dari ayat ini, manusia yang dipercaya oleh Allah sebagai khalifah itu bertugas memakmurkan atau membangun bumi ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh yang menugaskan (Allah).

Atas dasar ini dapat dikatakan bahwa tujuan pendidikan dalam Al-Qur’an adalah membina manusia secara pribadi dan kelompok sehingga mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya guna membangun dunia ini sesuai dengan konsep yang ditetapkan oleh Allah. Dari uraian tersebut juga dapat dirumuskan konsep pendidikan Islam sebagai berikut :

  1. Pendidikan dalam konsepsi ajaran Islam merupakan manifestasi dari tugas kekhalifahan ummat manusia di muka bumi. Manifestasi ini akan bermakna fungsional jika seluruh fenomena kehidupan yang  muncul dapat di beri batasan-batasan nilai moralitasnya, sehingga tugas kekhalifahan itu tidak justru berada di luar lingkar nilai-nilai itu. Dan konsekuensinya, mengisyaratkan kepada manusia agar dalam proses pendidikannya selalu cenderung pada ajaran-ajaran pokok dari sang Pendidik yang paling utama dan pertama, yaitu Allah sebagai rabb al-‘alamiin dan sekaligus sebagai rab an-naas.
  2. Pendidikan Islam memahami alam dan manusia sebagai totalitas ciptaan Allah, sebagai satu kesatuan, di mana manusia yang diberi otoritas relatif untuk mendayagunakan alam, tidak bisa terlepas dari sifat ar-rahman dan ar-rahim Allah yang termasuk sifat ke-rubbubiyyahan-Nya. Oleh karena itu pendidikan sebagai bagian pokok dari aktifitas pembinaan hidup manusia harus mampu mengembangkan rasa kepatuhan dan rasa syukur yang mendalam kepada Khaliq-nya. Sehingga beban tanggungjawab manusia tidak ditujukan kepada selain Allah. Inilah sebenarnya makna tauhid yang mendasari segala aspek pendidikan Islam.
  3. Atas dasar ketauhidan tersebut, pendidikan Islam  haruslah mendasarkan orientasinya pada penyucian jiwa, sehingga setiap diri manusia mampu meningkatkan dirinya dari tingkatan iman ke tingkatan ikhsan yang mendasari seluruh kerja kemanusiaannya (amal sholeh).

Dari orientasi pendidikan Islam ini, maka asas pendidikan Islam tidak lain adalah berupaya mengefektifkan aplikasi-aplikasi nilai-nilai agama yang dapat menimbulkan transformasi nilai dan pengetahuan secara utuh kepada manusia, masyarakat, dan dunia pada umunya.[4]

Al-Syaibany menyatakan bahwa pendidikan Islam harus mengandung unsur-unsur dan syarat-syarat sebagai berikut :

  1. Dalam segala prinsip, kepercayaan dan kandungannya sesuai dengan ruh (spirit) Islam;
  2. Berkaitan dengan realitas masyarakat dan kebudayaan serta sistem sosial, ekonomi, dan politiknya;
  3. Bersifat terbuka terhadap segala pengalaman yang baik (hikmah);
  4. Pembinaannya berdasarkan pengkajian yang mendalam dengan memperhatikan aspek-aspek yang melingkungi;
  5. Bersifat universal dengan standar keilmuan;
  6. Selektif, dipilih yang penting dan sesuai dengan ruh agama Islam;
  7. Bebas dari pertentangan dan persanggahan antara prinsip-prinsip dan kepercayaan yang menjadi dasarnya; dan
  8. Proses percobaan yang sungguh-sungguh terhadap pemikiran pendidikan yang sehat, mendalam dan jelas.

Selain itu, menurut Malik Fajar, pendidikan Islam harus memenuhi 4 tuntutan sebagai berikut :

  1. Kejelasan cita-cita dengan langkah-langkah operasional di dalam mewujudkan cita-cita pendidikan Islam.
  2. Memberdayakan kelembagaan dengan menata kembali sistemnya.
  3. Meningkatkan dan memperbaiki manajemen.
  4. Meningkatkan mutu sumber daya manusia (SDM).

C. Komponen Penunjang Pendidikan Islam

    Penyelesaian problem pendidikan sangat berkaitan dengan masalah bidang lainnya, seperti ekonomi, hukum, sosial dan politik. Tidak bisa menyelesaikan masalah pendidikan hanya dari satu sudut bidang pendidikan semata, karena hasil pendidikan siswa disekolah sangat dipengaruhi juga oleh lingkungan dan keluarganya, maka solusinya harus bersifat revolusioner yaitu merubah secara total paradigma berpikir dan bersikap dari pola pikir dan pola sikap dari kapitalis menjadi pola berpikir islam.

    Di masyarakat kita saat ini berkembang persepsi kapitalis, semisal sekolah bertujuan dapat kerja, sekolah biar jadi orang kaya, sekolah sekedar mengisi waktu luang atau dari pada menganggur. Pelajaran ekonomi misalnya, mengajarkan: demi keuntungan sebesar-besarnya, dengan pengorbanan sekecil-kecilnya.

    Kerusakan yang lama ada pada pola pendidikan di negara Barat sepatutnya ditinggalkan oleh kaum muslimin. Kerusakan tersebut timbul dikarenakan tidak adanya muatan ruhiyah dalam penelitian dan pengembangan sains dan teknologinya. Sehingga dampak yang bisa dirasakan, pola pendidikan tersebut menghasilkan output berpikir dan bersikap berdasarkan pada prinsip materialisme dengan menanggalkan prinsip syari’at Islam.[5] Dari sinilah problem sosial kemasyarakatan muncul dan kerusakan tatanan kehidupan.

    Membangun kepribadian islami yang terdiri dari pola pikir dan pola jiwa bagi umat yaitu dengan cara menanamkan tsaqofah Islam berupa aqidah, pemikiran, dan perilaku islami ke dalam akal dan jiwa anak didik. Mempersiapkan generasi Islam untuk menjadi orang ‘alim dan faqih di setiap aspek kehidupan, baik ilmu diniyah (Ijtihad, Fiqh, Peradilan, dll) maupun ilmu terapan dari sains dan teknologi (kimia, fisika, kedokteran, dll). Sehingga output yang didapatkan mampu menjawab setiap perubahan dan tantangan zaman dengan berbekal ilmu yang berimbang baik diniyah maupun madiyah-nya.[6]

    Kemudian tujuan dari pola pendidikan Islam bisa terlaksana jika ditopang dengan pilar yang akan menjaga keberlangsungan dari pendidikan Islam tersebut. Pilar penopang pendidikan Islam yang dibutuhkan untuk bekerja sinergis terdiri dari :

    1. Keluarga

      Dalam pandangan Islam, keluarga merupakan gerbang utama dan pertama yang membukakan pengetahuan atas segala sesuatu yang dipahami oleh anak-anak. Keluarga-lah yang memiliki andil besar dalam menanamkan prinsip-prinsip keimanan yang kokoh sebagai dasar bagi si anak untuk menjalani aktivitas hidupnya. Berikutnya, mengantarkan dan mendampingi anak meraih dan mengamalkan ilmu setingggi-tingginya dalam koridor taqwa. Jadi keluarga harus menyadari memiliki beban tanggung jawab yang pertama untuk membentuk pola akal dan jiwa yang Islami bagi anak. Singkatnya, keluarga sebagai cermin keteladanan bagi generasi baru. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda :

      كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلىَ اْلفِطْرَةِ فَأبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أوْ يُنَصِّرَانِهِ أوْ يُمَجِّسَانِهِ    -  رواه البجاري

      “Setiap anak dilahirkan atas fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang menjadikan anak itu beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)

      2. Masyarakat

        Pendidikan generasi merupakan aktivitas yang berkelanjutan tanpa akhir dan sepanjang hayat manusia. Oleh karena itu, pola pendidikan Islam tidak berhenti dan terbatas pada pendidikan formal (sekolah), namun justru pendidikan generasi Islami yang bersifat non formal di tengah masyarakat harus beratmosfer Islam pula. Kajian tsaqofah islam serta ilmu pengetahuan dan sarana penunjangnya menuntut peran aktif dari masyarakat pula. Ada beberapa peran yang bisa dimainkan masyarakat sebagai pilar penopang pendidikan generasi islami yaitu sebagai controh penyelenggaraan pendidikan oleh negara dan laboratorium permasalahan kehidupan yang kompleks.

        3. Madrasah/Sekolah/Lembaga Pendidikan

          Tempat untuk mengkaji keilmuan lebih intensif dan sistematis terletak pada Madrasah. Semasa Rasulullah SAW, masjid-masjid yang didirikan kaum muslimin menjadi lembaga pendidikan formal bagi semua manusia. Didalamnya tidak semata-mata membahas ilmu diniyah, namun juga ilmu terapan. Rasulullah menjadikan masjid untuk menyampaikan ajaran-ajaran Islam, tapi penyusunan strategi perang pun juga seringkali dilakukan oleh Rasulullah SAW bersama para sahabat didalam masjid. Sedangkan dimasa modern saat ini pendidikan bisa dialihkan yang semula masjid ke tempat dengan fasilitas yang menunjang dalam proses pembelajaran lebih efektif baik itu sekolah maupun perguruan tinggi. Hal ini sah-sah saja dan tidak bisa dianggap sebagai upaya memisahkan anak didik dari masjid.

          4. Negara

            Negara sebagai pilar penopang bisa mewujudkan pola pendidikan Islami akan lebih optimal, efektif dan sempurna jika didukung dengan semua kebijakan yang dikeluarkan terhadap aspek kehidupan ini berlandaskan syari’at Islam. Peran yang bisa diambil oleh Negara dalam mewujudkan pola pendidikan Islami diantaranya :

            1. Seleksi dan kontrol ketat terhadap para tenaga pendidik. Penetapan kualifikasi berupa ketinggian syakhsiyah islamiyah dan kapabilitas mengajar. Jika sudah didapatkan tenaga pendidikan yang sesuai kualifikasi, negara harus menjamin kesejahteraan hidup para tenaga pendidik agar mereka bisa focus dalam penelitian dan pengembangan ilmu bagi anak didik dan tidak disibukkan aktivitas mencari penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan hidup.
            2. Menyajikan konten pendidikan dengan prinsip al-Fikru li al-‘Amal (Link and Match/ilmu yang bisa diamalkan). Artinya jangan sampai isi materi pendidikan tidak membumi (tidak bisa diterapkan) sehingga tidak berpengaruh dan tidak memotivasi anak didin untuk mendalaminya.
            3. Tidak membatasi proses pendidikan dengan batasan usia dan lamanya belajar. Karena hakekat pendidikan adalah hak setiap manusia yang harus dipenuhi oleh Negara. Allah mengamanahkan penguasa negara untuk benar-benar memenuhi kebutuhan umat tanpa syarat termasuk pendidikan.

            D. Peran Masyarakat Sebagai Pendukung Pendidikan Islam

              Pendidikan Islam penuh dengan nilai insaniah dan ilahiyah. Agama Islam adalah sumber akhlak, kedudukan akhlak sangatlah penting sebagai pelengkap dalam menjalankan fungsi kemanusiaan di bumi. Pendidikan merupakan proses pembinaan akhlak pada jiwa. Meletakkan nilai-nilai moral pada anak didik harus diutamakan. Nilai-nilai ketuhanan harus dikedepankan, pendidikan Islam haruslah memperhatikan pendidikan akhlak atau nilai dalam setiap pelajaran dari tingkat dasar sampai tingkat tertinggi dan mengutamakan fadhilah dan sendi moral yang sempurna.[7]

              Dalam pendidikan Islam, keseimbangan hidup meliputi beberapa prinsip, yakni Keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, antara kebutuhan jasmanai dan rohani, antara kepentingan individu dan sosial, serta
              keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan amal.

              Hal diatas merupakan konsep pendidikan Islam yang ideal. Namun, realitas problem pendidikan yang ada adalah problem sistemik pendidikan artinya; permasalahan menyangkut keseluruhan komponen pendidikan, mulai dari pemerintah sebagai pengambil kebijakan sistem pendidikan nasional, manajerial pemerintah, kompetensi guru/dosen, sarana-prasarana, kurikulum, dukungan masyarakat, dan lain sebagainya. Oleh karena itu penanganannya juga harus melibatkan berbagai pihak, dan sudah seharusnya permasahan ini merupakan tanggung jawab bersama.

              Dibalik otonomi dan kebebasan yang dimiliki, kepada guru diberikan target yang harus dicapai sebagai standar keberhasilan. Sudah barang tentu target tersebut adalah keberhasilan untuk semua peserta didik tanpa membedakan latar belakang sosial ekonomi yang dimiliki, mencapai prestasi pada tingkat tertentu. Target bisa dikembangkan pada berbagai skop sekolah. Dengan adanya target sebagai standar, masyarakat bisa ikut mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan sekolah dalam mencapai tujuan.

              Terbukanya kesempatan bagi masyarakat dan orangtua peserta didik untuk mengevaluasi proses pendidikan, memungkinkan munculnya partisipasi masyarakat sekitar dan khususnya orangtua peserta didik dalam menyelenggarakan pendidikan. Misalnya, sekolah bisa mengundang orangtua dan masyarakat sekitar untuk berpartisipasi dalam menentukan kebijakan dan operasionalisasi kegiatan sekolah. Orangtua dan masyarakat sekitar yang mampu bisa diajak untuk berpartisipasi dalam pembiayaan pendidikan. Dengan demikian, pada level makro, secara nasional bisa dilaksanakan realokasi anggaran pembangunan pendidikan. Anggaran pendidikan pemerintah yang terbatas hanya diarahkan pada sekolah-sekolah yang memiliki peserta didik dengan latar belakang yang kurang mampu. Sedangkan bagi sekolah-sekolah yang peserta didiknya terdiri dari orangtua berlatar belakang sosial ekonomi relatif kaya, diharapkan bisa self-supporting dalam pembiayaan sekolah.

              Bahkan tidak hanya masyarakat sekitar, karena target dan standar yang harus memiliki skop regional dan daerah, maka pemerintah daerah akan secara langsung terlibat dalam menyukseskan pendidikan di wilayah masing-masing. Diharapkan pemerintah setempat bisa mengeluarkan berbagai kebijakan yang mendukung pencapaian target pendidikan tersebut. Misalnya, pemerintah kelurahan menetapkan “jam belajar” bagi anak usia tertentu. Pada jam-jam tersebut anak-anak tidak boleh bermain. Dengan kata lain pelayanan kemasyarakatan perlu dikaitkan dengan proses pendidikan.

              Kepada setiap sekolah dan guru diberikan kebebasan apa yang harus dilakukan dalam proses pembelajaran. Yang penting adalah pencapaian target yang telah ditentukan, dengan kata lain proses pendidikan bersifat product oriented, berlawanan process oriented, yang dilakukan sekarang ini. Untuk mencapai target yang telah ditentukan kepada guru perlu diberikan insentif dan sekaligus sanksi. Insentif diberikan kepada guru yang berhasil melampaui target yang telah ditentukan. Sebaliknya, sanksi diberikan kepada guru yang melakukan tindak kecurangan, misalnya mengubah, menambah atau memalsu nilai hasil pembelajaran peserta didik.

              E. Kesimpulan

                Konsep filosofis pendidikan Islam adalah bersumber dari hablum min Allah (hubungan dengan Allah) dan hablum min al-nas (hubungan dengan sesama manusia) dan hablum min al-alam (hubungan dengan manusia dengan alam sekitas) yang selanjutnya berkembang ke berbagai teori yang ada seperti sekarang ini. Inprirasi dasar yaitu berasal dari al-Qur’an dan al-Hadis.

                Lembaga pendidikan Islam harus ditata kembali sehingga program pendidikannya berorientasi pada pencapaian dan penguasaan kompetensi tertentu, oleh karena itu lembaga pendidikan Islam harus mempunyai sifat; (a) Multiprogram dan multistrata dan berorientasi pada tujuan perpektif dan kebutuhan deskriptif, (b) setiap program disusun dengan menggunakan prinsip pemaduan kompetitif kognitif, afektif, dan “akhlak” (c) Diversifikasi program ditata sesuai dengan kebutuhan yang nyata di dalam masyrakat yang berorientasi pada penampilan perilaku anak didik yang mempunyai rasa tanggung jawab.

                DAFTAR  PUSTAKA

                Arifin,  M. Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum). Jakarta: Bumi Aksara, 1991.

                Arifin, Syamsul. dkk. Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan, Yogyakarta: Si Press, 1996.

                Barzinji, Jamal. Sejarah Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Malang: Universitas Muhammadiyah, 1996.

                Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Bandung: al-Ma’arif, 1974.

                Nata, Abudin. Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.

                Tim Penulis, Islam dan Radikalisme di Indonesia, Jakarta: LIPI Press, 2005.

                Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 1995.


                Endnote :


                [1] Abudin Nata, Sejarah Pendidikan Islam Pada Periode Klasik dan Pertengahan, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), h. 99.

                [2] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: al-Ma’arif, 1974), Cet.III, h. 20.

                [3] Zuhairini, dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), Cet. II, h. 2.

                [4] Syamsul Arifin, dkk. Spiritualitas Islam dan Peradaban Masa Depan, (Yogyakarta: Si Press, 1996), h. 166-167

                [5] Tim Penulis, Islam dan Radikalisme di Indonesia, (Jakarta: LIPI Press, 2005), h. 53.

                [6] M. Arifin,  Kapita Selekta Pendidikan (Islam dan Umum) , (Jakarta: Bumi Aksara, 1991), h. 27.

                [7] Jamal Barzinji, Sejarah Islamisasi Ilmu Pengetahuan, (Malang: Universitas Muhammadiyah, 1996), h. 37-28.

                Komentar
                1. Rangga Sa'adillah mengatakan:

                  Bagus pak mengenai konsep Pendidikan Agama Islamnya
                  Hormat Saya Rangga Sa’adilah

                2. somantri Perbangkara mengatakan:

                  bagus ! bagus ! satu lagi, bagus !

                3. ohan mengatakan:

                  makasih…sukses 4 IAIN SNJ

                Berikan Balasan

                Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

                WordPress.com Logo

                You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

                Twitter picture

                You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

                Facebook photo

                You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

                Google+ photo

                You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

                Connecting to %s