Pendidikan Akhlak

Posted: 22 Maret 2009 by Miftah in Artikel, Pendidikan, Tafsir
Tag:, , , ,
Pendidikan agama adalah unsur terpenting dalam pembangunan mental dan pendidikan moral. Jika kita mempelajari pendidikan agama, maka moral merupakan sesuatu yang sangat penting. Bahkan yang terpenting di mana kejujuran, kebenaran dan keadilan merupakan sifat-sifat terpenting dalam agama.
Timbulnya pendidikan akhlak, bersamaan dengan timbulnya kehidupan manusia dan berbagai persoalan mana yang baik dan mana yang buruk bagi tiap orang, walaupun dengan penilaian akal yang sederhana sekalipun pada dasarnya semua ini adalah untuk mengatur tata kehidupan manusia.[1]
Dengan berpangkal dan berdasar pada ketinggian akhlak dan keutamaan budi pekerti, Nabi Muhammad saw. berhasil membawa perubahan besar dan mengubah serta memutar seluruh sendi kehidupan bangsa manusia baik jasmani maupun rohani. Dengan akhlak juga beliau memenuhi kewajiban dan menunaikan amanah, dan mengajak manusia kepada tauhid, memimpin umat dalam perjuangan menggapai cita-cita serta membangun negara yang berdaulat dan merdeka, yang segalanya itu menjadi cermin dan teladan bagi manusia sekarang.
Sebab akhlak merupakan barometer terhadap kebahagiaan, keamanan dan ketertiban dalam kehidupan manusia dan dapat dikatakan bahwa akhlak merupakan berdirinya suatu umat, sebagaimana shalat sebagai tiang agama. Dengan kata lain, apabila rusak akhlak suatu umat maka rusaklah bangsanya.
Lebih jauh dalam buku Akhlak, dikatakan oleh Syauqi Bey dalam syairnya:
وَإِنَّمَا الأُمَمُ الأَخْلاَقُ مَا بَقِيَتْ ¤ فَإِنْ هُمْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا
Artinya: “Sesungguhnya kejayaan suatu umat (bangsa) terletak pada akhlaknya selagi mereka berakhlak dan berbudi perangai utama, jika pada mereka telah hilang akhlaknya, maka jatuhlah umat (bangsa) itu”.[2]

Kemerosotan moral bukanlah hal yang baru, banyak faktor yang mempengaruhinya, di antaranya melalui media elektronik yang sering menayangkan film-film yang kurang baik dan menyalahi aturan dan ajaran agama Islam. Program-program televisi sering memperlihatkan tindakan-tindakan yang kurang baik, seperti minum-minuman keras, pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, kekerasan dalam rumah tangga baik yang dilakukan orang tua terhadap anak-anaknya maupun sebaliknya, serta durhaka kepada kedua orang tuanya, sehingga kenyataan yang ditimbulkannya tidak jarang berupa kesimpangan sosial dan perilaku-perilaku yang tidak manusiawi di antara mereka.[3]
Dalam keluarga misalnya, seorang anak yang sudah tidak lagi mengindahkan sikap berbakti kepada kedua orang tua, dan bertindak tidak sopan kepada mereka. Padahal mereka adalah orang tua yang paling sayang kepada anak-anaknya. Kasih sayangnya itu tidak ada taranya.
Ibu bapak menghendaki agar anaknya menjadi orang yang berbahagia. Ibu telah bersusah payah mengandung, melahirkan, mengasuh, mendidik dan sebagainya untuk kepentingan anak-anaknya. Bapak setiap hari mencari nafkah hidup, bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk anak, istri dan keluarganya. Tetapi sayang, banyak orang yang melupakan kasih sayang dan jasa-jasa kedua orang tuanya. Seharusnya sebagai seorang anak harus lebih menghormati dan menyayangi kedua orang tuanya. Jangan sekali-kali seorang anak membalas “air susu dengan air tuba”.[4]
Al-Qur’ân telah memberikan pengajaran dan pedoman kepada umat manusia tentang akhlak yang mulia. Al-Qur’ân juga telah memberikan solusi untuk mengatasi segala krisis akhlak yang sedang terjadi sekarang ini. Nilai-nilai akhlak mulia yang terdapat di dalam al-Qur’ân dapat kita jadikan pedoman dan rujukan untuk membendung dan mengantisipasi kemerosotan akhlak masyarakat sekarang ini. Di dalam al-Qur’ân banyak dijumpai ayat-ayat yang menjelaskan tentang pembinaan akhlak mulia. Di antara ayat-ayat al-Qur’ân yang mengandung konsep-konsep pendidikan akhlak mulia adalah firman Allah dalam surat al-Isrâ’ ayat 23-24. Ayat tersebut penting sekali dan perlu digali untuk dijadikan rujukan dan pedoman bagi kita semua dalam rangka pembelajaran, pembentukan serta pembinaan akhlak mulia.[5] Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menggali, membahas dan mendalami lebih jauh lagi tentang ayat tersebut yang kemudian dituangkan dalam karya ilmiah yang berbentuk skripsi dengan judul: “NILAI-NILAI PENDIDIKAN AKHLAK DALAM SURAT AL-ISRÂ’ AYAT 23-24”.
[1] Syahminan Zaini, Tinjauan Analisis Tentang Iman, Islam dan Amal, (Jakarta: Kalam Mulia, 1984), Cet 1, h. 3.
[2] Kahar Mansur, Membina Moral dan Akhlak, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), h. 3.
[3] Dani L. Yatim dan Irwanto, Kepribadian Keluarga dan Narkotika, (Jakarta: Arcan, 1986), Cet. 2, h. 41.
[4] Hadiyah Salim, Tuntunan Akhlak, (Bandung: CV. Sinar Baru, 1992), Cet. 2, h. 5-6.
[5] Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Surya Cipta Aksara, 1989), h. 415.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s