THEORY OF CREATION MENURUT AMINA WADUD DAN RIFFAT HASSAN

Posted: 22 Maret 2009 by Miftah in Artikel, Tafsir
Tag:, ,
Hampir setiap tulisan para feminis mengawali tulisannya dengan menyorot pemahaman teologi perempuan yang berkembang di masyarakat. Mereka mempersoalkan tiga hal, perempuan (Hawa) diciptakan dari tulang rusuk Adam, perempuan diciptakan untuk melengkapi keinginan dan hasrat laki-laki, serta perempuan menjadi penyebab utama kejatuhan manusia ke bumi.
Para feminis muslim tanpa ragu-ragu menyoroti pembagian peran yang diatur di dalam kitab-kitab fiqih khususnya mengenai al ahwal al syakhsiyyah. Mereka berpendapat bahwa fiqih adalah interpretasi lokal dan kondisional terhadap sumber-sumber ajaran Islam yang bersifat universal. Jika terjadi pergeseran nilai sebagai akibat perubahan sosial maka dimungkinkan melakukan reinterpretasi sumber ajaran, termasuk mendisfungsionalisasikan sejumlah hadis yang oleh Fatima Mernissi disebut hadis-hadis misoginis.[1]
Reinterpretasi terhadap sumber ajaran agama merupakan suatu keharusan, akan tetapi batas-batas reinterpretasi itu sangat sensitif. Melalui tulisan ini, akan dibahas bagaimana proses penciptaan manusia menurut sebagian feminis, yakni Amina Wadud dan Riffat Hassan.

Teori Penciptaan Manusia
Dalam diskursus feminisme, konsep penciptaan perempuan merupakan isu yang paling penting dan mendasar untuk dibicarakan, baik ditinjau secara filosofis maupun teologis dibandingkan dengan isu-isu feminisme yang lain. Sebab konsep kesetaraan atau ketidaksetaraan dapat dilacak akarnya dari konsep penciptaan perempuan.
Menurut Riffat Hassan,[2] adanya diskriminasi dan segala macam bentuk ketidakadilan gender yang menimpa kaum perempuan dalam lingkungan umat Islam berakar dari pemahaman yang keliru dan bias patriarkhi terhadap sumber ajaran Islam, yaitu kitab suci al Quran. Menurut pendapatnya, jika laki-laki dan perempuan telah diciptakan setara oleh Allah maka di kemudian hari mestinya tidak berubah menjadi tidak setara. Jika kenyataannya berubah menjadi tidak setara, ini berarti menyalahi desain yang telah direncanakan dan ditetapkan Allah.[3]
Al Quran tidak menganggap perempuan sebagai sejenis laki-laki. Perempuan dan laki-laki adalah dua kategori spesies manusia yang diberi perhatian sama atau sederajat dan dikaruniai potensi yang sama atau sederajat. Tak satupun dikecualikan dari tujuan utama al Quran, yakni membimbing manusia ke pengenalan dan keyakinan terhadap suatu kebenaran. Meskipun terdapat perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan ketika al Quran membahas penciptaan manusia, akan tetapi tidak ada perbedaan hakiki dalam hal nilai yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki. Karena itu, tidak ada petunjuk bahwa perempuan memiliki keterbatasan yang lebih banyak atau lebih sedikit daripada laki-laki.[4] Begitulah penuturan Amina Wadud dalam tafsirnya. [5]
Jika ditelaah secara cermat, ayat-ayat tentang penciptaan perempuan (Hawa) sebenarnya tidak menjelaskan secara rinci bagaimana mekanismenya. Riffat merujuk pada QS. al Nisa’ ayat 34, al A’raf ayat 189, dan al Zumar ayat 6. Sedangkan Wadud mengambil QS. al Nisa’ ayat 1 untuk menjelaskan teorinya tentang penciptaan manusia (perempuan). Meskipun demikian, yang menjadi inti pembahasan adalah sama, yakni penafsiran kata nafs wahidah dan zawjaha.
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا. ( النساء : 1 )
“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”. (QS. al Nisa’: 1).
Jumhur Ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dengan nafs wahidah dan zawjaha di dalam ayat di atas adalah Adam. Allah swt. menciptakan manusia laki-laki dari satu jenis dan kemudian dari bagian jenis tersebut Dia menciptakan pasangannya, yaitu seorang manusia perempuan yang menyerupainya dalam sifat-sifat kemanusiaan.[6] Redaksi ayat tersebut memang sangat interpretable, meskipun para mufassir sebelumnya seperti al Qurtubi, al Zamakhsyari, al Alusi, Jalaluddin al Suyuti, dan lainnya memahami dan meyakini nafs wahidah adalah Adam dan zawjaha adalah Hawa. Mereka memahami ayat tersebut berdasarkan pada hadis tentang penciptaan perempuan riwayat Bukhari Muslim dimana Ibn Katsir juga mencantumkan dalam tafsirnya.
إِنَّ الْمَرْآةَ خُلِقَتْ مِنْ ضِلْعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْئٍ فِى الضِّلْعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبَتْ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنِ اسْتَمْتَعْتَ بِهَا اسْتَمْتَعْتَ بِهَا وَفِيْهَا عِوَجٌ.[7]
“Sesungguhnya wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah bagian paling atasnya. Jika kamu berusaha meluruskannya maka kamu harus mematahkannya. Jika kamu ingin bersenang-senang dengannya maka kamu bisa bersenang-senang dengannya dalam keadaan tetap bengkok”.
Menurut Amina Wadud, Allah tidak pernah berencana memulai penciptaan manusia dengan seorang laki-laki. Dia juga tidak pernah meruukkan asal-mula manusia pada Adam. Al Quran bahkan tidak menyebutkan bahwa Allah memulai penciptaan manusia dengan nafs Adam, laki-laki.[8]
Secara gramatikal, nafs—yang secara umum diterjemahkan sebagai “diri”—adalah feminin dan merupakan antesenden dari kata sifat atau kata kerja feminin. Namun, secara konseptual nafs tidak maskulin maupun feminin dan menjadi bagian esensial dari setiap orang laki-laki maupun perempuan. Karenanya, kata ini juga dapat mempunyai antesenden maskulin. Secara teknis, kata nafs merujuk pada asal semua manusia secara umum. Meskipun manusia berkembang biak di muka bumi dan membentuk berbagai macam suku, bangsa, dan negara, namun mereka semua berasal dari sumber yang sama.[9]
Menurut penggunaan kata zawj dalam ayat pertama surat al Nisa’ ini, suatu pasangan terdiri atas dua hal yang berkoeksistensi dalam satu realitas, dan keduanya mempunyai beberapa perbedaan dalam hal sifat, ciri, dan fungsi. Namun, kedua bagian yang kongruen ini secara semantik menunjukkan keberadaan yang lainnya dan berdiri di atas hubungan keberpasangan, artinya keduanya merupakan satu-kesatuan. Mengenai penciptaan, setiap benda yang diciptakan tergantung pada pasangannya. Dalam ketergantungan ini, penciptaan kedua orangtua pertama secara azali dan mutlak saling terkait satu sama lain. Jadi, keduanya sama-sama penting.[10]
Hal senada dinyatakan oleh Riffat Hassan, bahwa kata nafs bersifat netral, bisa merujuk kepada laki-laki atau perempuan. Begitu pula kata zawj tidak secara otomatis berarti perempuan, tetapi ia netral, yang berarti pasangan.[11]
Jadi menurut Riffat, Adam dan Hawa diciptakan secara serempak dan sama substansinya, sama pula caranya. Bukan Adam diciptakan lebih dulu dari tanah kemudian Hawa dari tulang rusuk Adam. Hal ini disebabkan al Quran tidak pernah menyatakan bahwa Adam adalah manusia pertama dan al Quran tidak pula menyatakan bahwa Adam itu laki-laki. Adam adalah kata benda yang secara linguistik memang maskulin, namun bukan menyangkut jenis kelamin. Meski berpendapat demikian, Riffat tidak memastikan bahwa Adam adalah perempuan, tapi ia menolak dengan tegas jika Adam harus dianggap laki-laki.[12]
Riffat Hassan menolak dengan keras pandangan para mufassir bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam. Artinya ia telah mengingkari hadis tentang penciptaan perempuan yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim di atas. Baginya, riwayat mengenai hal itu hanyalah cerita-cerita mitologi dan dongeng-dongeng Israiliyyat belaka. Karena berdasarkan penelitian yang ia lakukan, ditemukan bahwa hadis tersebut mempunyai sistem sanad yang lemah karena mengandung perawi-perawi yang tidak tsiqqah, yaitu Maisarah al Asyjaj, Haramalah ibn Yahya, Zaidah, dan Abu Zinad—padahal setelah di-takhrij ulang oleh para ulama, ternyata terdapat kekeliruan dalam nama-nama tersebut karena terdapat kesamaan nama dalam rawi-rawi tersebut.[13]
Jadi, ayat tentang asal-usul manusia ini sebenarnya menggambarkan struktur tatanan sosial. Ayat ini menegaskan bahwa asal dari seluruh manusia adalah nafs yang satu, yang merupakan bagian dari suatu sistem kesatuan pasangan dimana antara satu sama lainnya saling membutuhkan.

Pendekatan Metodologis
1. Amina Wadud
Amina Wadud menulis tafsirnya adalah dalam rangka menyusun sebuah “pembacaan”, yakni proses mengkaji kata-kata dan konteksnya dalam rangka menarik pemahaman atas teks al Quran.[14] Menurutnya, kesimpulan-kesimpulan dari sebuah model hermeneutik terkait dengan tiga aspek teks, yaitu konteks ketika teks ditulis (dalam kasus al Quran, konteks ketika al Quran diwahyukan), komposisi gramatikal teks (bagaimana teks al Quran menuturkan pesan yang dinyatakannya), dan teks secara keseluruhan, yaitu weltanschaung atau pandangan dunianya. Oleh karena itu, untuk mencapai ketiga aspek tersebut ia menggunakan metode penafsiran Fazlur Rahman, yaitu semua ayat yang diturunkan pada titik waktu sejarah tertentu dan dalam suasana umum dan khusus tertentu, diungkap menurut waktu dan suasana penurunannya. Namun, pesan yang terkandung dalam ayat tersebut tidak terbatas pada waktu dan suasana historis tersebut.[15]
Al Quran mengakui perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Ia juga mengakui bahwa anggota setiap gender menjalankan fungsi yang mencerminkan berbagai perbedaan yang telah dirumuskan dengan baik dan dipegang oleh budaya tempat mereka berada. Dalam penafsiran Amina Wadud, semua ayat yang mengandung perujukan pada perempuan, baik secara terpisah maupun bersama-sama dengan laki-laki, dianalisis dengan metode tafsir al Quran bi al Quran. Ia menawarkan model hermeneutiknya dengan lima pendekatan analisis, yaitu analisis dalam konteks apa ayat itu berbicara, analisis dalam konteks pembahasan topik yang sama dalam al Quran, analisis menyangkut bahasa yang sama dan struktur sintaksis yang digunakan dalam al Quran, analisis dalam sudut prinsip dasar al Quran, serta analisis dalam konteks al Quran menurut dan sebagai weltanschaung atau pandangan dunia (world view).[16]
Dalam tafsirnya, Amina Wadud mengubah beberapa pembahasan yang sebelumnya dianggap gender menjadi netral gender. Ia bermaksud menyusun “pembacaan” al Quran berdasarkan pengalaman perempuan dan tanpa melihat stereotipe yang sudah menjadi kerangka penafsiran laki-laki. Oleh sebab itu, ia memfokuskan dalam menganalisis teks al Quran, bukan terhadap tafsir al Quran.
2. Riffat Hassan
Salah satu upaya untuk melakukan reformasi terhadap sistem masyarakat yang bias patriarkhi dan mengarah kepada ketidakadilan gender adalah melakukan reinterpretasi al Quran yang selama ini dipandang mengandung bias patriarkhi yang cenderung merugikan perempuan. Untuk melakukan reinterpretasi yang sensitif gender, maka metodologi penafsirannya harus direkonstruksi. Sebab, ketika metodologinya sudah bias gender maka hasil penafsirannya juga akan bias gender.
Untuk menafsirkan ayat-ayat al Quran yang dapat dipandang steril dari bias gender, Riffat Hassan menawarkan konstruksi metode penafsiran baru, yaitu metode historis, kritis, dan kontekstual. Pertama, memeriksa ketepatan makna kata atau bahasa (language accuracy), yaitu dengan melihat terlebih dahulu secara kritis sejarah kata dan akar katanya sesuai dengan konteks pada waktu itu, dan kemudian dilanjutkan dengan analisis semantiknya (yang berkaitan dengan arti kata). Kedua, melakukan pengujian atas konsistensi filosofis dari penafsiran-penafsiran yang telah ada. Ketiga, prinsip etis dengan didasarkan pada prinsip keadilan yang merupakan pencerminan dari Justice of God.[17]
Selain metode konstruksi di atas, Riffat juga menggunakan metode dekonstruksi, dalam arti dia berupaya mendekonstruksikan penafsiran-penafsiran ayat-ayat al Quran yang telah bias patriarkhi. Ia mencoba menafsirkan ayat tersebut dengan tafsir yang lebih adil dan apresiatif terhadap kaum perempuan. Dalam hal ini ia melakukan dua pendekatan penafsiran. Pertama, pendekatan ideal approach, yakni dengan mellihat bagaimana al Quran secara normatif menggariskan prinsip-prinsipnya. Kedua, pendekatan empirical approach, dengan cara melihat dan mempertimbangkan kondisi empiris yang menyejarah di masyarakat.[18]
Ia mencoba lebih dahulu melihat bagaimana sisi ideal normatif. Misalnya, bagaimana seharusnya perempuan itu menurut al Quran, tingkah lakunya, hubungan dengan Tuhannya, dengan orang lain, dan dengan dirinya sendiri. Setelah itu, ia mencoba melihat sisi lain, bagaimana kenyataan empirik yang terjadi pada perempuan. Bagaimana perempuan memandang dirinya dan bagaimana masyarakat melihat perempuan. Dengan demikian, ia tidak hanya melihat gambaran empirik-realistik saja, melainkan juga melihat dan mengaitkannya dengan gambaran teoritik yang normatif-idealis.

Kesimpulan
Pada prinsipnya, metodologi adalah cara atau kiat yang dipilih oleh seorang penafsir atau penulis untuk melakukan pekerjaan penelitiannya secara sistematik. Metodologi merupakan pembahasan tentang konsep teoritis berbagai metode yang terkait dengan sistem pengetahuan. Berkaitan dengan itu, konsep penciptaan perempuan perlu dikaji ulang dengan menggunakan suatu metode yang lebih baru yang tidak mengandung bias gender. Hal tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui apakah betul perempuan (Hawa) diciptakan dari laki-laki (Adam), yang berarti apakah perempuan merupakan derivasi saja dan hanya sebagai pelengkap, atau singkatnya apakah terdapat kesenjangan dan ketidaksetaraan secara substansial perempuan dengan laki-laki ataukah tidak.
Kisah al Quran tentang penciptaan manusia memperlihatkan suatu hubungan khusus antara Pencipta dan yang diciptakan. Hubungan ini merupakan dasar bagi eksistensi al Quran dan petunjuk yang terkait dengan penciptaan. Walaupun laki-laki dan perempuan merupakan dua kesatuan penting dalam penciptaan manusia, namun tidak ada peran atau fungsi kultural spesifik yang ditetapkan pada saat keduanya diciptakan. Penjelasan al Quran tentang penciptaan manusia berhubungan dengan tema-tema lain dalam weltanschaung umum al Quran, yakni tauhid, petunjuk, tanggung jawab moral individu, dan kesetaraan.[19]
Melihat sisi pendekatan dan metodologi yang digunakan Amina Wadud dan Riffat Hassan dalam menafsirkan ayat-ayat tentang penciptaan perempuan, antara keduanya terdapat kesesuaian walau dengan bahasa yang berbeda, dan keduanya cukup konsisten dalam penerapan metodologi yang sudah mereka tawarkan. Hanya saja, Riffat dengan lantang mengajukan penolakannya terhadap hadis penciptaan perempuan dari tulang rusuk laki-laki. Hal ini menjadikan Riffat terlihat kurang konsisten dengan metodenya, karena ia justru terjebak oleh pemahaman yang literalis-tekstualis-skriptualis ketika memahami hadis tersebut. Padahal jika dipahami secara majazi, ia dapat diartikan untuk memberi peringatan kepada laki-laki agar dalam menghadapi perempuan dapat bersikap bijaksana, karena ada karakter dan kecenderungan prempuan yang berbeda dengan laki-laki. Dengan pemahaman seperti itu tentunya tidak akan melahirkan pemahaman yang misoginik.
Wallah a’lam bi al shawwab.

* * *
[1] Nasaruddin Umar, Pergerakan Nilai dan Peningkatan Gerakan Gender di Abad 21; Kritik dan Aksi, dalam Jurnal Perempuan Bergerak, (Jakarta: PB. Korp. PMII Putri, Oktober 2000), hal. 10.
[2] Riffat dilahirkan di Lahore, Pakistan. Ayahnya, Begum Shahiba, adalah seorang tradisionalis dan pathriarkhal di daerah itu. Sedangkan ibunya adalah seorang feminis radikal. Sejak tahun 1974 secara serius ia mulai mempelajari teks-teks al Quran dan melakukan reinterpretasi terutama terhadap ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah perempuan. Melalui karya-karyanya yang banyak membicarakan tentang gender, ia kemudian diakui oleh banyak kalangan sebagai pemikir feminis yang telah memberikan kontribusi besar terhadap gerakan perempuan di Pakistan. Lihat Abdul Mustaqim, Metodologi Tafsir Perspektif Gender (Studi Kritis Pemikiran Riffat Hassan), dalam Abdul Mustaqim dan Syahiron Syamsudin (Ed.), Studi al Quran Kontemporer; Wacana Baru Berbagai Metodologi Tafsir, (Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya, 2002), cet. ke-1, hal. 68 – 70.
[3] Ibid, hal. 78 dan 79.
[4] Amina Wadud, Quran Menurut Perempuan; Membaca Kembali Kitab Suci dengan Semangat Keadilan, (Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta, 2006), cet. ke-1, hal. 35 – 36.
[5] Dr. Amina Wadud adalah asisten professor Studi Islam Virgina Commonwealth University. Ia termasuk salah seorang gembong dalam orgaNisa’si feminis Muslim Women’s Freedom Tour. Ia pernah menjadi imam shalat Jum’at di sebuah gereja di New York pada tanggal 18 Maret 2005 dimana para makmumnya terdiri dari laki-laki dan perempuan. (Peristiwa ini dibahas degan tuntas oleh Prof. KH. Ali Mustafa Yaqub dalam bukunya Imam Perempuan. (Jakarta: Putaka Firdaus, 2006), cet. ke-2, hal. 11 – 14). Ia menyusun tafsirnya yang mengusung keadilan gender dengan judul Quran and Women: Rereading the Sacred Text from a women’s Perspective yang diterbitkan oleh Oxford University Press, New York pada tahun 1999.
[6] Ahmad Musthafa al Maraghi, Tafsir al Maraghi, Juz 4, (Beirut: Dar Ihya al Turats al ‘Arabi, tth.), hal. 175.
[7] Imaduddin Abu al Fida’ Isma’il ibn Katsir, Tafsir al Quran al ‘Adzim, Juz 1, (Beirut: Muassisah al Kutub al Tsaqafiyah, 1996), cet. ke-5, hal. 424.
[8] Amina Wadud, Op. Cit., hal. 43.
[9] Ibid, hal. 42.
[10] Ibid, hal. 45 – 46.
[11] Abdul Mustaqim, Op. Cit., hal. 80.
[12] Ibid, hal. 81.
[13] Lihat Ibid, hal. 81 – 82.
[14] Amina Wadud, Op. Cit., hal. 15.
[15] Ibid, hal. 19.
[16] Ibid, hal. 21.
[17] Abdul Mustaqim, Op. Cit., hal. 74.
[18] Ibid, hal. 76 – 77.
[19] Lihat Amina Wadud, Op. Cit., hal. 53 – 55.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s