FILSAFAT ILMU

Posted: 15 Mei 2009 by Miftah in Tak Berkategori
Tag:, ,
Oleh : Miftahul Khaer, S.Th.I

Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidak tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidak tahunya

Tulisan ini diawali dengan sebuah pernyataan filosof yang menyebutkan beberapa jenis manusia berdasarkan pengetahuannya, dimana untuk menjadi seorang manusia yang—katakanlah—sempurna maka ia harus mengetahui apa yang tahu dan mengetahui apa yang ia tidak tahu. Seorang pria harus benar-benar mengenal serta mengetahui calon istrinya dari sisi bobot, bibit, bebet, bahkan mungkin bubut juga babatnya, baik jasmani maupun rohaninya. Selain itu, ia juga harus benar-benar memahami hal-hal yang belum ia ketahui dari calon istrinya, sebab hanya dengan proses seperti itulah seorang pria akan benar-benar siap menerima calonnya tersebut menjadi pendamping hidupnya untuk selamanya. Begitulah kiranya jika dapat diilustrasikan.
Berbicara tentang filsafat berarti berbicara tentang kehidupan yang di dalamnya terdapat tuhan, alam, makhluk sebagai objek serta manusia itu sendiri yang dapat menjadi objek sekaligus subjek. Filsafat banyak dipahami oleh masyarakat sebagai suatu ilmu yang radikal, bebas tak tentu arah, tidak mempunyai pedoman, dan seterusnya. Karenanya, sebagian masyarakat melarang keras mempelajari filsafat di manapun, apalagi di sekolah-sekolah atau perguruan-perguruan tinggi sebab menganggap bahwa dengan belajar filsafat maka akan dapat menjauhkan seseorang dari norma-norma dan berpikiran yang aneh-aneh. Padahal tanpa mereka sadari, mereka pun sebenarnya seringkali berpikir filsafat dalam tiap liku kehidupan mereka.
Sebelum berbicara lebih jauh ada baiknya membahas pengertian filsafat terlebih dahulu. Meski sebenarnya apabila sesuatu hal didefinisikan—terlebih jika semakin banyak definisi tersebut—maka pengertian tentangnya akan semakin kabur sehingga jauh dari makna yang sebenarnya. Akan tetapi, mengutip satu pepatah: tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta.
Eksplorasi tentang definisi filsafat yang dapat dikatakan sebagai induk ilmu pengetahuan serta mempunyai cakupan paling luas diantara ilmu-ilmu lainnya merupakan sesuatu yang tiada habisnya dan menjadi kunci awal dalam menemukan makna tentang ilmu-ilmu yang akan dipelajari selanjutnya. Pembicaraan definisi filsafat dapat ditinjau dari beberapa segi, yaitu:
1. Filsafat dari segi etimologi
Pada awalnya, filsafat berasal dari kata philosophos atau philosophia. Ia merupakan bahasa Yunani Kuno yang pertama kali diperkenalkan—sebagian pendapat—oleh Heraklitos (540-500 SM) sementara pendapat lainnya oleh Phytagoras (580-500 SM). Dalam Bahasa Inggris dapat diartikan sebagai the love of wisdom atau love for wisdom.
Philosophos atau philosophia adalah gabungan kata dari philos yang berarti cinta dan sophos atau sophia yang berarti kebijaksanaan, pengetahuan, hikmah, kemahiran, kecakapan dalam suatu pekerjaan, serta kebenaran murni. Sophia dalam arti terakhir ini kemudian dirumuskan oleh Phytagoras bahwa hanya Zat Yang Maha Tinggi, yakni Tuhan yang dapat melakukannya. Oleh karena itu, manusia hanya dapat sampai pada sifat ‘Pencipta kebijaksaan’.
Harun Hadiwijono berpendapat bahwa filosofien adalah asal kata filsafat yang berarti mencintai kebijaksanaan. Dalam hal ini, penulis memahami bahwa filsafat hanya terbatas pada cara memperoleh atau menjadi orang yang bijaksana. Begitu juga pendapat Ali Mudhafir.
Berbeda dengan keduanya, Harun Nasution mengemukakan bahwa filsafat berasal dari kata philien dalam arti love dan sophos dalam arti wisdom dan dalam Bahasa Arab adalah falsafat atau filsaf. Menurutnya, filsafat yang merupakan gabungan dari bahasa Inggris fil dan bahasa Arab safah dapat didefinisikan menjadi pengetahuan tentang hikmah, pengetahuan tentang prinsip atau dasar, pengetahuan untuk mencari kebenaran, dan pengetahuan yang membahas dasar dari apa yang dibahas.
Mengamati berbagai pendapat di atas, penulis mengartikan bahwa filsafat merupakan sejenis pengetahuan yang digunakan untuk membahas segala sesuatu yang ingin dibahas oleh pembahas.
2. Filsafat sebagai sikap
Pengertian awal bahwa filsafat sebagai love of wisdom merupakan sifat dari seseorang yang bersikap dasar filasafat. Phytagoras, sebagaimana dikemukakan Ahmad Tafsir, memandang filsafat sebagai sikap perenungan tentang ketuhanan yang merupakan cerminan dari pandangan hidupnya. Karenanya, filsafat adalah kegiatan refleksif akal budi manusia terhadap segala hal tanpa terbatas pada bidang atau tema tertentu. Selain itu, filsafat juga merupakan kegiatan eksplisitasi hakikat realitas yang ada dalam kehidupan manusia, baik hakikat alam semesta, Tuhan, maupun manusia itu sendiri dari segi struktural maupun normatifnya. Sehingga filsafat dapat memberikan pandangan hidup sebab sikap dan kegiatan tersebut dilakukan secara metodis-sistematis.
3. Filsafat sebagai metode
Filsafat sebagai metode artinya sebagai cara berpikir reflektif (mendalam), penyelidikan yang menggunakan alasan, berpikir secara hati-hati dan teliti. Metode berpikir filsafat bersifat inclusive (mencakup secara luas) dan synoptic (secara garis besar) sehingga metode pemikiran yang dilakukan berbeda dengan ilmu-ilmu khusus. Berpikir ala filsafat berarti pemikir dapat mempunyai pemikirannya pribadi dengan sistematis sehingga ia akan membutuhkan inspirasi, komunikasi bahkan konfrontasi dengan para pemikir lainnya.
4. Filsafat sebagai sekelompok teori atau sistem pemikiran
Teori atau sistem pemikiran tentang filsafat dimunculkan oleh para filosof sesuai dengan besarnya subyektifitas masing-masing dalam menjawab berbagai permasalahan yang muncul dalam kehidupan mereka. Oleh karena itulah, dari sisi ini akan sangat sulit merumuskan definisi filsafat secara pasti, sebab atas perbedaan pemikiran yang bermacam-macam serta mempunyai karakteristik sendiri-sendiri akhirnya menghasilkan isme-isme dalam filsafat, yakni yang dikenal filsafat aliran rasionalisme, empirisme, dan seterusnya.
Memperhatikan definisi-definisi filsafat di atas, maka filsafat adalah sebagai sarana, alat, atau metode berpikir. Berfilsafat berarti berpikir, meski tidak semua aktifitas berpikir disebut berfilsafat. Oleh karena itu, berpikir filsafat harus memenuhi kriteria radikal (berpikir sampai ke akar persoalan), sistematik (berpikir logis, step by step), universal (mencakup seluruh aspek konkret-abstrak atau fisik-metafisik), spekulatif (berani melakukan uji coba kebenaran), dan kontemplatif (perenungan kebenaran yang kontinyu).
Mengingat tulisan ini diajukan sebagai tugas mata kuliah Filsafat Ilmu, maka pembahasan filsafat harus dikaitkan dengan pembahasan ilmu. Cukup banyak pakar yang membicarakan tentang definisi ilmu (science) dan tentunya berbeda satu sama lainnya sebagaimana filsafat yang telah didefinisikan. Namun kali ini, penulis tidak akan memperpanjang pembahasan tentangnya sebab pada intinya ilmu yang dalam Bahasa Inggris science berarti pengetahuan tentang sesuatu hal. Akan tetapi, karena pembahasannya berkaitan dengan filsafat maka perlu dikemukakan definisi ilmu menurut para filosof, yakni sesuatu kumpulan sistematis dari pengetahuan (any systematic body of knowledge). Jadi, bisa dipahami bahwa ilmu merupakan produk suatu kegiatan manusia yang mengandung arti to know dan to learn, yaitu hasil dari proses pembuatan pengetahuan yang merupakan fakta empiris.
Sejauh pemahaman penulis, filsafat ilmu sangat berbeda pengertiannya dengan ilmu filsafat. Ilmu filsafat berarti pengetahuan tentang filsafat dari sisi historisnya, kronologisnya dan lain sebagainya yang seluruhnya berkaitan dengan filsafat itu sendiri. Sedangkan filsafat ilmu merupakan suatu proses melakukan kritik yang kemudian melahirkan teoritisasi terhadap ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu adalah kajian ilmu pengetahuan secara mendalam melalui kerangka metodologi aksiologi, epistemologi dan ontologi serta berbagai hal yang bersangkut-paut dengan ilmu. Jadi, obyek filsafat ilmu adalah ilmu itu sendiri yang menggunakan alat filsafat untuk memahaminya. Berbeda dengan ilmu filsafat yang obyek kajiannya adalah filsafat dan berbagai hal yang berkenaan dengannya.
Dalam sejarahnya, ilmu sudah berkembang sejak zaman Yunani Kuno, bahkan bila ditelusuri lebih jauh keberadaan ilmu sudah ada sejak zaman Adam pertama kali diciptakan dimana Tuhan sebagai penciptanya yang mengajarkannya secara langsung. Mengutip al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 31:

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu orang-orang yang benar!” (QS. Al-Baqarah: 31).

Awalnya, masyarakat Yunani Kuno terkungkung dalam kehidupan yang penuh dengan mite (jamak: mitos) atau yang biasa kita sebut dengan mistik. Pada perkembangan selanjutnya mitos sekarang lebih dikenal dengan TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat) dan sejenisnya. Namun, justru dari mite itulah para pemikir Yunani mulai bangkit. Mereka berusaha merealisasikan mitos-mitos Yunani secara filosofis-spekulatif. Mereka—mengutip pernyataan Cecep Sumarna—secara perlahan mengubah peta mistik yang penuh khayal dan imajinatik ke dunia logika dan faktual yang rasional, konkret dan terukur. Mereka mampu membalikkan mitos menjadi ilmu. Sehingga harus diakui bahwa mite menjadi cikal bakal lahirnya filsafat di dunia Yunani. Disamping itu, penulis juga memahami karena Yunani berdekatan dengan daerah Timur Kuno (Cina) dan Babylonia (Mesir) dimana di dua daerah ini ilmu pengetahuan sudah berkembang sehingga sedikit banyaknya kedua wilayah ini memberikan pengaruh pada pemikiran para filosof Yunani yang sudah merasa ‘gerah’ akan mite. Para filosof tersebut mampu mensistematiskan, mengeneralisasikan serta menteorikan ilmu pengetahuan yang sebelumnya adalah mistik.
Kebesaran pemikiran filosofis para filosof Yunani Kuno seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thales, Anaximandros, Anaximenes, Phytagoras, Xenophanes, Heraclitus, Anaxagoras, Leuxipus, Demokritos, dan seterusnya, telah menjadi titik awal pemikiran filososf dan saintis modern. Dialektika berpikir yang mereka sumbangkan akhirnya melahirkan pemikir-pemikir baru pada abad-abad selanjutnya. Pada abad pertengahan telah banyak lahir para filosof muslim maupun filosof Kristen medievelis. Dapat disebutkan beberapa tokoh seperti Lotinus, Agustine, Anselm dan Thomas Aquinas dari kalangan Kristen. Sedangkan dari kalangan muslim lahir Ibn Rusyd, al-Farabi, al-Biruni, Ibn Sina, al-Kindi, al-Razi, dan lainnya.
Metode berpikir tokoh-tokoh di atas, meskipun masih banyak dipengaruhi ide-ide Yunani, namun mereka sudah mulai mengkomparasikannya dengan teks-teks kitab suci sesuai dengan ajaran serta paham yang mereka anut. Pemikiran mereka lebih cenderung transendental ketuhanan, meski tetap membicarakan hal-hal duniawi tetapi esensi transendentalismenya selalu beriringan. Akan tetapi, gejolak pemikiran seperti ini berlangsung beberapa abad saja dan mulai runtuh sedikit demi sedikit, khususnya tradisi keilmuan dalam Islam. Keadaan seperti ini semakin parah pasca Perang Salib karena banyaknya para filosof muslim yang ikut andil sehingga mereka gugur sebagai syuhada dalam peperangan tersebut dan kemudian dunia Barat mengambil keuntungan dari peristiwa tersebut dengan mengambil ilmu sekaligus peradaban masyarakat muslim yang telah hancur itu.
Era pemikiran selanjutnya muncul di dunia Barat yang berawal dengan penerjemahan karya-karya para pemikir Islam ke dalam bahasa mereka dan kemudian terus berkembang pesat sejalan dengan pertumbuhan ilmu pengetahuan dan teknologi Barat modern. Sehingga jika ingin berbangga, perkembangan ilmu pengetahuan, pemikiran filsafat serta peradaban di Barat mempunyai transmisi yang cukup signifikan dengan peradaban Islam sebelumnya.
Dunia ini memang bulat dan terus berputar berkeliling pada porosnya. Begitu juga arah pemikiran filsafat pada masa Barat modern. Jika pemikiran para filosof muslim lebih pada perenungan sifat-sifat ilahiah dengan mengadopsi cara berpikir filosof Yunani, maka sebaliknya pada masa keilmuan Barat modern lebih mengedepankan logika duniawi tanpa memandang sudut-sudut ketuhanan. Ini disebabkan oleh sikap keilmuan serta pemikiran mereka yang bersifat logis, sekuler, ateistik, dan kealaman. Kajian keilmuan Barat cenderung pada hal-hal yang bersifat alamiah serta dapat memberi nilai manfaat secara langsung pada kehidupan umat manusia.
Corak, sifat dan karakter keilmuan Barat yang mirip pada masa Yunani Kuno ini, meski memang lebih modern sehingga dapat disebut sebagai era Neo-Aristotelian, sebenarnya—mengutip pernyataan Cecep—lahir dari sikap antitetik terhadap rancang bangun keilmuan Kristen yang menempatkan Gereja sebagai pusat kajian berbagai bidang, termasuk keilmuan. Sikap keilmuan masyarakat Barat inilah yang menyebabkan keilmuan Barat menjadi sekuler dan ateistik guna percepatan perkembangan teknologi modern sekaligus menghilangkan sisi spiritualitas di dalamnya. Indikasi kebenaran pada masa ini dilandaskan pada corak teologis yang natural, dinamis, teratur, runtut serta dapat dibuktikan secara rasional. Pada zaman ini pula akhirnya muncul isme-isme atau aliran-aliran pemikiran serta keilmuan yang sangat banyak., seperti rasionalisme, idealisme, materialisme, dan seterusnya.
Ilmu yang terstruktur dari 3 huruf Bahasa Arab ‘alama, yang menurut ulama hikmah huruf ‘ain berarti derajat tertinggi (‘illiyyin), lam berarti lemah lembut (lathif) dan mim berarti kerajaan (mulk), mempunyai sumbernya yang sangat jelas. Sebab segala sesuatu dalam kehidupan ini pasti ada sumber atau asal-muasalnya, begitupun ilmu pengetahuan. Para filosof dan saintis muslim memandang bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari wahyu yang termanifestasikan dalam bentuk al-Qur’an dan al-Sunnah. Berbeda halnya di kalangan filosof dan saintis Barat yang membatasi sumber ilmu pengetahuan pada rasio akal serta pengalaman empiris.
Terlepas dari perbedaan di atas, bahwa sumber ilmu pengetahuan dapat dikategorikan menjadi 2 macam, yaitu ilmu yang bersumber dari Tuhan melalui wahyu dan ilmu yang bersumber dari akal pikiran manusia melalui penalarannya. Atas kedua sumber ini akhirnya akan memunculkan suatu konklusi kebenaran yang berbeda, tergantung pada sumber mana yang dipakai. Setidaknya akan terdapat empat teori kebenaran, pertama koherensi yang lebih bersifat pada kebenaran rasio, kedua korespondensi yang lebih bersifat kebenaran faktual/empiris, ketiga teori pragmatisme fungsional yang menitikberatkan pada fungsi dan kebenaran itu sendiri, dan keempat teori kebenaran ilahiah yang berlandaskan pada pedoman kitab suci atau ajaran agama. Meskipun keempat teori tersebut sangat berbeda, akan tetapi ketiganya mempunyai kesamaan dimana teori-teori tersebut melibatkan logika, bahasa serta pengalaman dalam kerangkanya mengungkapkan kebenaran.
Penggunaan aspek logika, bahasa dan pengalaman dalam proses pencarian kebenaran dibutuhkan salah satu alat lain yang disebut penalaran akal dimana ia merupakan aspek inti kemanusiaan. Jika seorang manusia tidak menggunakan akalnya dengan sebaik-baiknya dalam konteks berpikir, maka dapat dikatakan ia sama saja dengan binatang, tetapi sebaliknya jika manusia benar-benar menggunakan akalnya maka ia barulah dapat disebut manusia atau makhluk sempurna. Begitulah kiranya pemahaman penulis terhadap ucapan Tuhan tentang hayawan al-nathiq.
Penalaran merupakan suatu proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (observasi empirik) secara logis dan analitik yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian dalam merumuskan pengetahuan. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan maka akan terbentuk proposisi-proposisi, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, proses seperti inilah yang disebut menalar.
Penalaran atau dapat juga disebut dengan pemikiran logis, dalam filsafat ilmu terdapat dua cara kerja logika, yaitu logika matematika yang menggunakan menggunakan metode deduksi/rasio dimana ia bersifat khusus yang menarik kesimpulan dari hal-hal yang bersifat umum. Proses seperti ini dinamakan juga dengan silogisme. Cara kerja logika yang terakhir adalah logika statistik. Cara kerja logika ini adalah kebalikan dari cara sebelumnya. Logika statistik menggunakan metode induksi/empirik yang mengambil kesimpulan secara umum dari hal-hal yang bersifat individual atau khusus.
Bidang kajian filsafat ilmu diantaranya adalah ontologi. Bidang ontologi mengkaji segala sesuatu di balik fisik atau sesuatu sesudah fisik yang biasa disebut dengan metafisika. Metafisika berasal dari bahasa Yunani meta (sesudah sesuatu atau di balik sesuatu) dan physika (nyata, konkret, dapat diukur dan dijangkau panca indera). Metafisika dapat digunakan sebagai studi atau pemikiran tentang sifat tertinggi atau terdalam dari keadaan atau kenyataan yang tampak nyata dan variatif. Hubungan antara metafisika dengan filsafat ilmu dapat diibaratkan seperti hubungan dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan meski gampang dibedakan. Filsafat ilmu memperbincangkan persoalan metafisika lebih karena hampir tidak ada satu ilmupun yang terlepas dari persoalan metafisika.
Pembahasan metafisika dapat diringkas menjadi metafisika khusus dan umum. Metafisika khusus merupakan cabang filsafat yang mengkaji dan membicarakan tentang alam, tuhan, dan manusia sehingga pokok kajiannya adalah kosmologi, teologi, dan antropologi. Sebaliknya, metafisika umum yang sering diistilahkan dengan ontologi memiliki cabang atau aliran yaitu idealisme, materialisme dan naturalisme. Idealisme adalah paham aliran yang berusaha memahami materi atau tatanan kejadian-kejadian yang terdapat dalam ruang dan waktu sampai pada hakikatnya yang terdalam. Materialisme adalah sebuah paham yang menganggap bahwa materi merupakan wujud segala eksistensi. Sedangkan naturalisme adalah suatu paham yang memandang bahwa apa yang dinamakan kenyataan adalah segala sesuatu yang bersifat kealaman.
Kajian pembahasan lainnya dalam filsafat ilmu adalah estetika. Estetika dapat didefinisikan sebagai sebuah teori yang menelaah dan membahas tentang seni dan keindahan serta tanggapan manusia terhadapnya. Tanggapan mengenai nilai sebuah seni atau keindahan (estetik) biasanya berbeda antara seseorang dengan orang lainnya. Penentuan nilai estetik ini sangat bersifat subjektif karena dipengaruhi oleh pengalaman yang kemudian diolah oleh akal masing-masing.
Dalam menentukan nilai sebuah estetik, seseorang meneruskan apa yang telah diinderainya ke dalam hatinya. Kondisi hati sangat mempengaruhi penilaian. Pengalaman batinnya akan menyatakan penerimaan atau penolakan terhadap hasil penginderaan tersebut. Dari hati diteruskan lagi pada otak. Otak memproses informasi dari hati tadi dan menganalisisnya melalui proses berpikir sehingga menghasilkan satu kesimpulan dia menyukai atau tidak, menerima itu sebagai estetik atau bahkan menolaknya. Begitulah kiranya apabila digambarkan.
Mengingat hasil kebenaran estetik yang obyektif dalm kesubyektifan pemikir—dalam hal ini pelaku seni, maka supaya terjadi keseimbangan dalam menampilkan sebuah karya seni, pelaku seni akan dianggap sangat bijaksana bila seni yang dihasilkannya berpatokan pada norma-norma atau etika yang hidup dalam masyarakatnya, baik etika agama, adat, maupun etika bermasyarakat. Bila setiap pelaku seni menggunakan etika ini sebagai pembatas (bingkai), maka seni yang dihasilkan akan dapat dinikmati masyarakat tanpa menimbulkan ekses negatif. Sebab seni hanya akan bisa menyentuh jiwa penikmatnya hingga menimbulkan kepuasan bila seni itu muncul dari jiwa penciptanya.

Pemaparan tulisan ini hanyalah pemahaman penulis yang awam terhadap filsafat ilmu dan tentunya masih terlalu banyak kutipan bebas di sana-sini. Penulis hanya berharap ini hanyalah salah satu langkah awal untuk mencapai keberhasilan serta kesuksesan dalam berfilsafat yang kemudian akan berlanjut dengan langkah-langkah selanjutnya yang tidak akan pernah habis jalan untuk menapakinya. Akhirnya, langkah-langkah tersebut akan dapat mengantarkan penulis ke dalam kebijaksanaan serta kebenaran yang hakiki meski sadar manusia hanya akan memperoleh sedikit bagian saja dari sifat-sifat kebijaksanaan dan kebenaran Tuhan.

Akhirnya, penulis mengakhiri dengan mengutip ayat al-Qur’an: ”Manusia diciptakan dari sedikit ruh-Nya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s