Al Farabi (Emanasi Tuhan dan Akal Mustafad)

Posted: 9 Februari 2010 by Miftah in Artikel
Tag:,

Teori emanasi adalah teori pancaran tentang urutan-urutan wajud atau teori tentang keluarnya sesuatu wujud yang mumkin (alam dan makhluk) dari Zat yang wajibul wujud (Tuhan). Al Farabi berpendapat bahwa segala sesuatu itu keluar/berasal dari Tuhan, karena Tuhan mengetahui zat-Nya dan mengetahui bahwa ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik-baiknya.

Tuhan berpikir tentang dirinya dan dari pemikiran ini timbul maujud lain. Karena pemikiran tuhan tentang diri-Nya merupakan daya yang dahsyat, maka daya itu dapat menciptakan sesuatu. Tuhan meupakan wujud yang pertama. Karena Tuhan berpikir tentang diri-Nya sendiri yang Esa, maka timbullah maujud kedua yang disebut akal pertama yang tidak bersifat materi. Selanjutnya, akal pertama berpikir tentang Tuhan sehingga timbul akal kedua. Akal pertama juga berpikir tentang diri-Nya sehingga terciptalah langit. Akal kedua berpikir tentang Tuhan, timbul akal ketiga, dan berpikir tentang dirinya, maka terciptalah bintang-bintang. Begitu seterusnya hingga sampai pada akal kesepuluh. Secara ringkas dapat digambarkan sebagai berikut.

Allah Ta’ala (wujud 1)

berpikir tentang diri-Nya

Akal 1

Akal 1 (wujud 2)

berpikir tentang Tuhan

Akal 2

berpikir tentang diri-Nya

Langit

Akal 2 (wujud 3)

berpikir tentang Tuhan

Akal 3

berpikir tentang diri-Nya

Bintang-bintang

Akal 3 (wujud 4)

berpikir tentang Tuhan

Akal 4

berpikir tentang diri-Nya

Saturnus

Akal 4 (wujud 5)

berpikir tentang Tuhan

Akal 5

berpikir tentang diri-Nya

Yupiter

Akal 5 (wujud 6)

berpikir tentang Tuhan

Akal 6

berpikir tentang diri-Nya

Mars

Akal 6 (wujud 7)

berpikir tentang Tuhan

Akal 7

berpikir tentang diri-Nya

Matahari

Akal 7 (wujud 8)

berpikir tentang Tuhan

Akal 8

berpikir tentang diri-Nya

Venus

Akal 8 (wujud 9)

berpikir tentang Tuhan

Akal 9

berpikir tentang diri-Nya

Merkurius

Akal 9 (wujud 10)

berpikir tentang Tuhan

Akal 10

berpikir tentang diri-Nya

Bulan

Akal 10 (wujud 11)

berpikir tentang Tuhan

Tidak menghasilkan akal lain

berpikir tentang diri-Nya

Bumi, api, air, udara dan tanah

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”,”serif”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-size:10.0pt; mso-ansi-font-size:10.0pt; mso-bidi-font-size:10.0pt;} @page WordSection1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 72.0pt 72.0pt 72.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.WordSection1 {page:WordSection1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”,”serif”;}

Demikian gambaran alam dalam astronomi yang diketahui pada zaman Al Farabi. Pemikiran akal kesepuluh tentang Tuhan tidak cukup kuat untuk menghasilkan akal, juga karena tidak ada lagi planet yang yang akan diurusnya. Masing-masing akal mengurus planetnya dan akal kesepuluh ini terkadang disebut juga Jibril.

Akal Mustafad

Al Farabi membagi jiwa manusia kepada tiga bagian, yaitu jiwa vegetatif yang memiliki daya makan, tumbuh dan bereproduksi, jiwa sensitif yang memiliki daya gerak, pindah dan menangkap dengan pancra indera, terakhir jiwa rasional yang memiliki daya berpikir (akal). Akal terbagi menjadi 2 bagian, yaitu akal praktis (gerakan tubuh) dan akal teoritis. Akal teoritis memiliki 4 tingkatan, yaitu akal potensial (material), akal mungkin (Bakat/pengetahuan rasional I), akal aktual (pengetahuan rasional II), dan akal mustafad (akal perolehan/pengetahuan intuitif).

Akal tingkat keempat inilah yang tertinggi dan dimiliki para fisosof. Akal mustafad sudah dapat menangkaparti-arti murniyang tidak berhubungan dengan material karena akal ini sudah tidak membutuhkannya. Akal mustafad mepunyai kesanggupan berkomunikasi dengan akal kesepuluh. Ia sudah tidak mempedulikan dan membutuhkan serta telah sanggup melepaskan diri dari segala ikatan jasmani dan material. Inilah akal yang sempurna dalam jiwa manusia.

Allah Ta’ala (wujud 1)

berpikir tentang diri-Nya

Akal 1

Akal 1 (wujud 2)

berpikir tentang Tuhan

Akal 2

berpikir tentang diri-Nya

Langit

Akal 2 (wujud 3)

berpikir tentang Tuhan

Akal 3

berpikir tentang diri-Nya

Bintang-bintang

Akal 3 (wujud 4)

berpikir tentang Tuhan

Akal 4

berpikir tentang diri-Nya

Saturnus

Akal 4 (wujud 5)

berpikir tentang Tuhan

Akal 5

berpikir tentang diri-Nya

Yupiter

Akal 5 (wujud 6)

berpikir tentang Tuhan

Akal 6

berpikir tentang diri-Nya

Mars

Akal 6 (wujud 7)

berpikir tentang Tuhan

Akal 7

berpikir tentang diri-Nya

Matahari

Akal 7 (wujud 8)

berpikir tentang Tuhan

Akal 8

berpikir tentang diri-Nya

Venus

Akal 8 (wujud 9)

berpikir tentang Tuhan

Akal 9

berpikir tentang diri-Nya

Merkurius

Akal 9 (wujud 10)

berpikir tentang Tuhan

Akal 10

berpikir tentang diri-Nya

Bulan

Akal 10 (wujud 11)

berpikir tentang Tuhan

Tidak menghasilkan akal lain

berpikir tentang diri-Nya

Bumi, api, air, udara dan tanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s