MENUMPAS BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA DENGAN GHIRAH AL-QUR’AN (part 2)

Posted: 9 Februari 2010 by Miftah in Artikel, Tafsir
Tag:, ,

D. Perspektif Al-Qur’an Tentang Korupsi

Bagi seorang muslim, tidak ada larangan untuk menghimpun harta sebanyak-banyaknya, selama dilakukan dengan cara halal dan dikembangkan juga dengan cara syar’i. Islam mengakui sahnya kepemilikan pribadi atas harta, sehingga ia pun melindunginya dengan kontitusi dan bimbingan moral supaya tangan jahil tidak mengambilnya secara semena-mena; merampas, mencuri, atau menipu.

Islam mengharamkan seorang muslim untuk menempuh jalan suap kepada pejabat dan staf-stafnya, sebagaimana mereka juga diharamkan menerima suap itu. Disamping itu, pihak ketiga yang menjadi mediator antara pemberi dan penerima suap, juga sama kedudukan hukumnya (Yusuf Qardhawi, 2003: 462-463). Allah swt. berfirman:

Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al-Baqoroh: 188).

Imam Al-Maraghi di dalam tafsirnya (Juz II: 81-82) menjelaskan bahwa lafaz al-aklu dalam ayat ini berarti mengambil atau menguasai segala sesuatu yang termasuk kebutuhan pokok dan menyangkut biaya. Sedangkan al-bathil bermakna mengambil sesuatu dengan cara tanpa imbalan sesuatu yang hakiki. Bisa juga diartikan menginfakkan harta di jalan Allah yang tidak bermanfaat dan tidak pada tujuan sesuai syar’i. Perinciannya sebagai berikut:

  1. Riba, sebab ia memakan harta orang lain tanpa adanya imbalan yang sewajarnya dari orang pemberi harta.
  2. Harta yang diberikan untuk para penguasa atau para hakim sebagai risywah kepada mereka.
  3. Memberikan sedekah kepada orang yang mampu mencari nafkah yang penghasilannya sudah cukup.
  4. Harta zakat yang diambil oleh orang mampu.
  5. Penjual jimat, rajah, sekalipun ia bertuliskan ayat-ayat al-Qur’an.
  6. Menganiaya orang lain dengan cara gasab manfaat. Seperti tidak membayar upah kerja sesuai dengan kesepakatan awal.
  7. Macam-macam penipuan dan pemerasan, termasuk para calo tiket atau jasa.
  8. Upah ibadah, seperti membayar/memberi upah kepada orang yang melaksanakan shalat wajib satu waktu.

Korupsi yang dipahami mayoritas masyarakat sebagai suatu tindakan menyuap/disuap, mencuri, menipu, dan gasab—berdasarkan penjelasan di atas—termasuk tindakan yang batil juga dilarang agama. Pertama, korupsi sebagai penyuapan. Rasulullah saw. bersabda:

لَعْنَةُ اللهِ عَلىَ الرَّاشِى وَالْـمُرْتَـشِى

“Laknat Allah atas orang yang menyuap dan yang disuap”. (HR. Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya).

Tidaklah mengherankan jika Islam mengharamkan suap dan bersikap sangat keras terhadap semua pihak yang terlibat di dalam praktek tersebut. Demikian itu, tersebarnya praktek suap di tengah masyarakat berarti merajalelanya kerusakan dan kezaliman. Terdapatnya hukum tanpa asas kebenaran atau keengganan berhukum dengan kebenaran, mendahulukan yang seharusnya diakhirkan atau sebaliknya, juga merajalelanya mental oportunisme dalam masyarakat, bukan mental tanggung jawab melaksanakan kewajiban (Qardhawi: 464).

Islam mengharamkan suap dalam berbagai bentuknya, dengan berbagaiistilahnya. Penamaan suap dengan istilah “hadiah” tidak mengubah statusnya dari haram menjadi halal. Sebagaimana yang telah dialami Umar bin ‘Abdul ‘Aziz ketika mendapatkan hadiah dari salah seorang gubernurnya, ia berkata: “Baginya hadiah namun bagiku risywah”.

Kedua, korupsi sebagai pencurian. Mencuri ialah mengambil barang orang lain secara sembunyi-sembunyi tanpa diberi kepercayaan untuk menjaga barang tersebut (Ibnu Rusyd, 1990: III, 647). Apapun yang diambil, berapapun jumlahnya, bagaimana dan untuk tujuan apapun pelaksanannya, secara individu maupun kelompok, milik pribadi atau lembaga, selama pengambilannya tanpa kesepakatan pemilik harta, ia dihukumi pencurian dan harta yang didapat menjadi haram.

Dalam hal pencurian, Islam mewajibkan potong tangan bagi pelakunya. Namun, hukuman tersebut hanya berlaku di negara-negara Islam. Praktik pencurian di Indonesia dihukum penjara sekaligus denda seberat-beratnya karena Indonesia negara yang multi agama. Kendati demikian, dalam proses peradilannya masih terkesan diskriminatif, antara pencuri seekor ayam yang harus dipenjara beberapa bulan dalam sel yang pengap dimana sekujur tubuhnya sudah babak belur akibat dipukuli massa, dibanding pencuri uang ratusan juta  yang cukup melapor 1 x 24 jam saja. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Abu Hurairah:

لَعَنَ الله ُ السَّارِقُ يَسْرِقُ الْبَيْضَةَ فَـتُـقْطَعُ يَدُهُ وَيَسْرِقُ الْحَبْلَ فَـتُـقْطَعُ يَدُهُ

“Allah melaknat pencuri. Ia mencuri telur, lalu dipotong tangannya. Dan ia mencuri tali, lalu dipotong tanggannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, korupsi sebagai gasab. Gasab ialah perbuatan mengambil secara paksa (merampas) kemudian mengakui hak kepemilikan suatu harta benda. Orang yang melakukan perbuatan ini, nilainya lebih berat dibanding mencuri meskipun hukumannya serupa (Ibnu Rusyd: III, 406), yakni hukuman potong tangan sekaligus mengembalikan atau mengganti barang yang telah diambil.

Dalam kehidupan di masyarakat, praktek korupsi juga termasuk menghalalkan segala macam cara untuk mendapatkan apa yang diharapkan. Hal seperti ini jelas dilarang oleh Allah di dalam al-Qur’an:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”. (QS. Al-Maidah: 87).

Islam telah menandaskan bahwa sesuatu yang mengharamkan maka cara (wasilah) yang dapat membawa kepada perbuatan haram tersebut adalah haram hukumnya. Keadaan demikian tidak hanya tertuju pada pelakunya itu sendiri secara langsung, tetapi meliputi semua orang yang bersekutu (kongsi) dengannya, baik melalui modal ataupun sikap. Syariat Islam yang bersifat universal tidak memilah-milah kepada siapa dan golongan mana hukum itu berlaku. Tidak ada suatu rukhshoh (keringanan) apapun dalam aplikasinya. Bahkan, tidak ada seorang muslimpun yang mempunyai keistimewaan khusus yang dapat menetapkan suatu hukum haram untuk orang lain, tetapi halal bagi dirinya sendiri. (Al-Ghazali, 2002: 32).

____________________________________________

Sebelumnya :

MENUMPAS BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA DENGAN GHIRAH AL-QUR’AN (part 1)

Selanjutnya :

MENUMPAS BUDAYA KORUPSI DI INDONESIA DENGAN GHIRAH AL-QUR’AN (part 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s