Dalil-Dalil Bahwa Khidr as. Masih Hidup

Posted: 15 Maret 2010 by Miftah in Artikel
Tag:, , , ,

Sebagaian ulama meyakini bahwa Khidr as. masih hidup dan ada di antara kita. Ia berada di tempat-tempat baik dan mulia yang tidak dapat disebutkan satu-persatu karena terlalu banyak orang yang pernah bertemu dengannya di berbagai tempat yang berbeda-beda.[1]

Namun, mereka berbeda pendapat mengapa Khidr as. dipanjangkan umurnya. Diriwayatkan oleh Ibn Ishâq dalam kitab al Mubtadâ’ yang dikutip oleh Ibn Hajar dalam Syarh al Bukhârî, telah bercerita sahabat kami bahwa ketika ajal Nabi Âdam as. sudah dekat, ia mengumpulkan anak-anaknya kemudian berkata, “Sesungguhnya Allah swt menurunkan azab kepada penduduk bumi, maka hendaklah jasadku bersama kamu di dalam gua sehingga kamu tanam aku di bumi Syâm”. Maka tatkala angin topan bertiup kencang pada zaman Nabi Nûh as., ia berkata kepada anak-anaknya, “Sesungguhnya Nabi Âdam as. telah memohon kepada Allah  supaya dipanjangkan usia orang yang menguburkannya sehingga hidup sampai hari kiamat”.

Rupanya jenazah Nabi Âdam as. belum juga dikuburkan sehingga Khidr-lah yang melaksanakan penguburannya. Do‘a Nabi Âdam as. diterima Allah  dan orang yang menguburkannya, yakni Khidr as. dipanjangkan umurnya sampai masa yang dikehendaki Allah  swt.[2]

Sebab yang kedua adalah karena Khidr as. pernah meminum ‘ain al hayâh (mata air kehidupan). Cerita ini diriwayatkan oleh Ibn ‘Asâkir dari Khaišumah ibn Sulaimân dari jalur Ja‘far al Şadîq dari ayahnya, yang juga dikutip Ibn Hajar, bahwasanya Raja Žulkarnain mempunyai seorang teman malaikat bernama Rafael. Malaikat itu selalu datang mengunjunginya dan berbincang-bincang dengannya. Pernah suatu hari Žulkarnain  bertanya, “Tolong ceritakan kepadaku bagaimana kamu beribadah di langit?”

Rafael menjawab, “Ibadah yang kamu lakukan ini belum ada bandingannya dengan ibadah kami di langit. Di antara malaikat ada yang beribadah secara qiyâm (berdiri) dan tidak pernah duduk selamanya. Namun demikian, malaikat-malaikat yang beribadah seperti itu berkata kepada Allah, “Tuhan kami, kami belum betul-betul beribadah kepada-Mu”.

Mendengar yang demikian, Žulkarnain  menangis kemudian berkata, “Wahai Rafael, aku ingin dipanjangkan umurku supaya aku dapat beribadah banyak kepada Tuhanku”. Malaikat itu bertanya, “Engkau betul-betul menginginkan umurmu dipanjangkan?” “Ya”. Jawabnya. Kemudian Rafael berkata, “Sesungguhnya Allah  mempunyai satu mata air yang disebut ‘ain al hayâh. Barang siapa yang meminum air tersebut tidak akan mati untuk selama-lamanya. Dia tidak akan mati sehingga dia sendirilah yang meminta kepada Allah  supaya dimatikan”. Raja bertanya, “Tahukah engkau di mana tempat mata air tersebut?” Malaikat menjawab, “Aku tidak tahu di mana tempatnya, hanya kami (para malaikat) di langit sering membicarakannya. Ada yang mengatakan bahwa Allah swt. Mempunyai naungan di bumi, yakni naungan yang tidak pernah diinjak oleh manusia dan jin. Kami mengira mungkin di sanalah ‘ain al hayâh itu”.

Kemudian Žulkarnain  mengumpulkan ulama-ulama yang ada di dunia dan ia bertanya kepada mereka, “Tahukah kalian di manakah letak ‘ain al hayâh itu?” Mereka menjawab, “Tidak”. Ia bertanya lagi, “Allah mempunyai naungan di bumi ini, tahukah kalian di mana tempat naungan tersebut?” Mereka menjawab, “Kami tidak tahu. Mengapa tuan menanyakan masalah itu?” Kemudian Žulkarnain  menceritakan apa yang dikatakan Malaikat Rafael kepadanya.

Sang raja kemudian membuat persiapan untuk ekspansi perjalanan. Singkat cerita, setelah melakukan perjalanan selama dua belas tahun dengan dikawal para prajurit dan ulama, sampailah mereka ke suatu tempat yang terdapat naungan di atasnya semacam awan. Žulkarnain  ingin terus pergi ke tempat itu tetapi dilarang oleh para prajuritnya karena takut menghadapi bahaya.

Akhirnya, ia pergi juga ke tempat itu dengan dikawal seluruh tentaranya. Khidr ditugaskan berjalan di bagian depan. Khidr sebenarnya sudah mengetahui apa yang sedang dicari sekalipun Žulkarnain  masih merahasiakannya. Kemudian sampailah mereka ke tempat itu di mana terdapat satu lembah (jurang) yang diduga di sanalah mata air itu. Khidr memerintahkan untuk berhenti dan menunggu kemudian ia sendiri yang turun ke lembah. Sesampainya di lembah, Khidr melihat ada mata air. Ia mengamatinya dan ternyata airnya putih seperti susu. Ia mencicipinya dan rasanya manis seperti susu. Ia minum airnya, bahkan dipakainya untuk mandi dan berwudu. Setelah selesai, ia keluar dari tempat tadi dan memakai pakaiannya kemudian menghadap Sang Raja dan menceritakan apa yang dilihatnya. Žulkarnain  turun ke tempat tadi tetapi ia tidak berjumpa lagi dengan mata air (‘ain al hayâh) itu.[3]

Ada yang mengatakan bahwa Khidr as. tidak akan mati sampai akhir zaman ketika al Qur’ân telah diangkat dari dunia ini.[4] Mereka yang meyakini hal ini berpendapat, “Dipanjangkan umur Khidr as. sampai suatu masa keluarnya Dajjâl dan ia yang akan mendustakan dan membantah Dajjâl  itu”. Pernyataan ini dikeluarkan oleh al Dâruquţnî dari Ibn ‘Abbâs.[5] Ibrâhîm ibn Sufyân menambahkan, “Dialah (Khidr) yang akan dibunuh dan dihidupkan kembali oleh Dajjâl. Sesungguhnya ia dipanjangkan umurnya karena ia meminum air dari ‘ain al hayâh dan untuk mendustakan Dajjâl”.[6] Hal ini juga diperkuat oleh cerita Rasulullah yang diriwayatkan Imam Muslim tentang Dajjâl yang tidak akan bisa memasuki kota Madînah dan kemudian muncul Khidr as. untuk mendustakannya.[7]

Di samping dalil-dalil di atas, mereka juga mendasarkan keyakinannya pada hadis-hadis tentang pertemuan antara Nabi Ilyâs as. dan Khidr as. untuk bersama-sama berhaji dan meminum air zamzam sebagai makanan dan minuman keduanya selama setahun serta kemudian saling mencukur rambut sahabatnya. Juga kenyataan bahwa Khidr as. (hampir) pernah berjumpa dengan Nabi Muhammad saw. dalam berbagai kesempatan, serta ia pernah berta‘ziyah ketika Rasulullah wafat walau hanya terdengar suaranya,[8] karena ia memang tidak dapat dilihat oleh mata kepala manusia biasa, kecuali oleh orang-orang yang telah mukâsyafah atau terbuka penghalang antara dirinya dengan hal-hal yang bersifat gaib.

Keyakinan mereka akan keberadaan Khidr as. semakin bertambah kuat seiring adanya orang-orang yang pernah bertemu dengan Khidr as. pasca Nabi Mûsâ as. dan Nabi Muhammad saw. Hal ini, menurut mereka, adalah suatu bukti bahwa Khidr memang benar-benar ada dan hidup kekal sampai hari kiamat.

Terlalu banyak cerita-cerita yang mengatakan bahwa Khidr as. pernah menemui orang lain selain Nabi Mûsâ  as. Beberapa di antaranya adalah Khalifah ‘Umar ibn ‘Abd al ‘Azîz. Diceritakan oleh Laiš ibn Khâlid Abû Bakr, dari Musayyab Abû Yahyâ yang merupakan sahabat Muqâtil ibn Hayyân. Musayyab berkata, “Aku menjadi duta kepada ‘Umar ibn ‘Abd al ‘Azîz. Di saat yang bersamaan aku bertemu seorang lelaki tua yang sedang berbicara kepadanya kemudian aku tidak melihatnya lagi. Aku bertanya pada khalifah, “Wahai Amîr al Mu’minîn, tadi aku melihat seorang lelaki berbicara kepadamu, di mana ia sekarang?” Khalifah ‘Umar kembali bertanya, “Apakah kamu melihatnya?” Aku menjawab, “Ya”. Umar berkata, “Lelaki itu saudaraku, Khidr. Dia datang kepadaku memberi nasihat dan koreksi”.[9]

Abû ‘Abdurrahmân al Sulamî berkata dalam karangannya al Taşnîf, ia pernah mendengar Muhammad ibn ‘Abdullâh al Râzî berkata bahwa Bilâl Khawâşî pernah bercerita kepadanya, “Aku pernah berada di padang pasir Banî Isrâîl. Tiba-tiba ada seorang lelaki menyebelahi aku berjalan sehingga aku merasa heran. Terlintas di benakku bahwa dia adalah Khidr.

Aku bertanya kepadanya, “Demi Allah , siapakah tuan?”

Ia menjawab, “Aku saudaramu, Khidr”.

“Bagaimana pendapatmu mengenai al Syafî‘î?”

“Dia salah seorang walî al abdâl,” jawabnya.

“Mengenai Ahmad ibn Hanbal?’ tanyaku.

“Ia orang yang teramat jujur”. Jawab Khidr.

“Lalu Bisyr ibn Hâriš?” tanyaku kembali.

“Dia sulit dicari penggantinya yang sepadan dengannya setelahnya”.

Aku bertanya lagi, “Lantaran apa aku bisa menjumpaimu?”

Ia menjawab, “Lantaran baktimu pada ibu”.[10]

Dan masih banyak lagi kisah-kisah pertemuan Khidr as. dengan orang-orang selain Nabi Mûsâ  as. Satu hal yang pasti ialah keyakinan ini dianut oleh kaum sufi, ahli kebatinan dan ma‘rifat, serta orang-orang awam juga banyak mengikutinya.[11]


[1] Abû Zakariyyâ Yahyâ ibn Syarf al Nawâwî, Şahîh Muslim bi Syarh al Nawâwî, (Beirut: Dâr Ihyâ’ al Turâš al ‘Arabî, 1984), Juz 15, hal. 135 – 136.

[2] Ahmad ibn ‘Alî ibn Hajar al ‘Asqalânî, Fath al Bâri Syarh Şahîh al Bukharî, (Beirut: Dâr al Kutub al ‘Ilmiyyah, 2000), Juz 6, hal. 536. Lihat juga Ahmad ibn ‘Alî ibn Hajar al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir (Diterjemahkan oleh Syahrin Nasution), (Kuala Lumpur: Dâr al Nu‘man, 1996), hal. 8 – 9.

[3] Al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536. Lihat juga Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 9 – 12.

[4] Al Nawâwî, Şahîh Muslim bi Syarh al Nawâwî, Juz 15, hal. 136, al ‘Asqalânî, Fath al Bâri, Juz 6, hal. 536 dan Muhammad ‘Abd al Ra‘ûf al Manâwî, Faid al Qadîr Syarh al Jâmi‘ al Şağîr, (Beirut: Dâr al Ma‘rifah, 1972), Juz 2, hal 525.

[5] Al ‘Asqalânî, Kisah Nabi Khidir, hal. 8.

[6] Al Manâwî, Faid al Qadîr, Juz 2, hal. 575.

[7] Lihat Bab II tentang Khidr as. bertemu Dajjâl dan penjelasan hadis ini pada Bab III tentang Dajjâl membunuh Khidr as.

[8] Lihat juga Bab II dan kualitas hadis-hadis ini pada Bab III.

[9] Ahmad ibn ‘Alî ibn Hajar al ‘Asqalânî, Kontroversi Sang Khidir (Diterjemahkan oleh Slamet Riyadi Sami’), (Yogyakarta: Duamataair, 2005), hal. 151 – 152. Riwayat ini terdapat juga di dalam al Maudûât. Di antara periwayatnya terdapat Riyâh ibn ‘Abîdah yang menurut Ibn al Munâdî, hadis Riyâh bagaikan hembusan angin. Abû al Farj ‘Abd al Rahmân ibn ‘Alî ibn Muhammad ibn Ja‘far ibn al Jauzî, Al Maudûât, (Muassisah al Nidâ’, tth.), Jilid 2, hal. 249.

[10] Cerita ini juga diriwayatkan oleh Abû Na‘îm dalam kitab al Hilyah dari Zafar ibn Muhammad dari ‘Abdullâh ibn Ibrâhîm al Harîrî, dari Abû Ja‘far Muhammad ibn Şâlih ibn Duraij, dari Bilâl al Khawâşî, “Aku pernah bertemu Khidr dalam mimpi. Aku bertanya kepadanya …”. (sebagaimana cerita di atas). Al ‘Asqalânî, Kontroversi Sang Khidir, hal. 152 – 154.

[11] Al Nawâwî, Şahîh Muslim bi Syarh al Nawâwî, Juz 15, hal. 135.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s